CERPEN
Different
• Naomi Lang As Naomi Kim Lang.
Sinopsis :
“Bagaimana rasanya dibuang, tak diperdulikan, seperti kau benar – benar tak pernah dilahirkan. Aku benci dengan diri ku sendiri. Juga dengan pantulan cermin yang jauh lebih baik dari diri ku. Dia Naomi” Lissa Lang
“Ku kira aku yang paling mengerti tentang mu, ternyata salah. Bagaimana caranya membuat mu untuk tersenyum seperti saat kau sedang memainkan piano. Aku bagian lain dari sisi mu. Aku menyayangi mu Lisa” Naomi Lang.
Seperti apa bayangan mu jika kau mempunyai saudara kembar? Seperti melihat pantulan dirimu yang lain disebuah kaca. Apa kau akan bahagia? Bagaimana jika dirimu yang lain jauh lebih baik dari mu?
Pantulan air kolam yang tenang dimusim panas begitu menyilaukan mata. Mencoba mencari kesibukan diantara waktu luang di weekend agar ku bisa sedikit merasa kan bahwa aku benar – benar hidup. Ohh, hai perkenalkan nama ku Lissa Kind Lang. Seorang mahasiswa ekonomi semester akhir. Apa kau bertanya dimana aku sekarang? Aku berada di Inggris, tepatnya di London, tepatnya lagi di apartemen kosong ku. Kenapa ku menyebutnya kosong? karena hanya aku yang tinggal disini, sendirian jika boleh ku tambahkan. Apa kau sempat berfikir aku seorang yang sebatang kara? Awalnya aku juga sempat berfikiran seperti itu, but kau salah besar.
Kembali lagi dengan nama ku Lissa Kind Lang, kau lihat marga ku? Jangan bilang kau tak tahu.
Lagi pula siapa yang tak mengenal nama itu, marga yang paling berpengaruh di South Korea. Iya itu nama marga ayah ku, Kim Lang. Seorang pengusaha sukses yang mendirikan K.L Group perusahaan bergerak di bidang Telekomunikasi yang sekarang cabang nya sudah merambah di bidang industri, perekonomian, Teknik Permesinan, Pertambangan, dan masih banyak lagi.
“ Kau telah dewasa, keputusan mu adalah keinginan mu. Pikirkan lah keinginan mu di Inggris. Dan jika kau sudah memutuskan nya beritahu aku”
Itu adalah kalimat terakhir yang ku dengar dari Ayah ku, apa yang ku fikirkan saat itu.
Kim Lang telah mengusirku dari rumah atau membuang ku ke Inggris. Keinginan ku hanyalah menjadi seorang pianis dunia. Darah ku beraliran seni bukan bisnis. Jadi, dia membuang ku kesini. Disebuah negara yang jauh dari rumah.
“Sayang, apa kau tega melihat ibu setiap malam menangis merindukan mu?”
“Kan masih ada naomi ibu, lagi pula wajah kita kan sama. Anggap saja dia itu adalah aku.
Maka ibu tidak akan merindukan ku”.
Itu ibu ku, Ny.Tiffany Kind Lang. Seorang model dari inggris yang sangat cantik. Dengan mata nya yang besar yang diwariskan pada ku. Wajahnya yang masih terlihat muda meski sudah berkepala Tiga. Sejak hari itu, handpone ku tak pernah berhenti berdering siang maupun malam. Siapa lagi kalau bukan ibu yang selalu bertanya tentang keadaan ku. Sudah ratusan kali dia menelfon, namun rasanya tangan ku terasa enggan untuk menjawab satu pun panggilannya.
“Lissa, cepat pulang. Apa kau harus ke Inggris hanya untuk memperlancar Bahasa Inggris mu?”.
Dan itu Naomi, saudara kembar ku kami hanya selisih 5 menit. Aku tahu aku bukan lah kakak yang baik untuk nya. Dan sekarang akan ku perbaiki kesalahan itu. Aku akan pulang ke rumah.
10: 45 am.
Aku tiba disebuah bangunan bercat putih yang lumayan luas yang kusebut rumah. Tidak banyak berubah dengan bangunan ini sejak terakhir kali menginjakkan kakiku disini masih tetap hangat. Nuansa didalamnya pun masih tetap sama. Ku langkah kan kaki jenjang ini memasuki rumah, terdapat ayah yang duduk dikursi ruang keluarga sedang menatap intens pada ku dengan kaca mata minus yang bertengger dihitungnya, dan ibu yang berdiri disampingnya.
Kini raut keriput sudah menghiasi wajah keduanya seiring bertambahnya usia. Ibu yang sedari tadi sudah berlinang air mata yang susah payah ditahannya akhirnya menghambur kepelukanku, melimpahkan semuanya kepadaku seakan beban rindu yang selama ini ditanggung luntur seketika, ibu semakin mempererat pelukannya bahwasanya seperti aku akan pergi jauh lagi. Tapi ini sungguh membuatku sesak nafas.
Naomi, dia hanya diam berdiri dengan senyum yang masih mengembang diwajahnya, berharap aku menyapanya.
“Kau pulang? Apa kau sudah memutuskan keinginan mu?”
Suara yang selama ini sangat kurindukan, tapi sepertinya ayah masih tetap dengan pendirianya.
Memangnya apa yang ku harapkan.
“Keinginan ku masih sama”.
Terlihat keterkejutan diwajah ayah, namun masih dapat ia kontrol untuk menutupinya digantikan dengan ekspresi datar.
“Benar, kau masih sama. Keras kepala”
Kini suara ayah meninggi, disertai dengan suara yang sedikit serak. Tunggu apa ayah menangis. Terlihat sebulir air yang berkilau dikelopak matanya. Apa aku telah menyakitinya?.
2 Hari berikutnya.
“Kau selalu saja seenak mu sendiri. Lupakan mimpi bodoh mu itu. Mengembangkan perusahaan L.K Group jelas lebih menghasilkan ketimbang menekan tuts piano”.
Jujur mengingat perkataan ayah tempo hari yang lalu sungguh membuat hati ku linu. Aku hanya ingin menjadi diri ku sendiri. Bahkan aku iri kepada Naomi adikku yang bebas dapat melakukan apapun yang ia inginkan tanpa kekangan dan tuntutan apapun dari ayah, dan itu sebabnya aku membencinya.
“Jika itu mimpimu, rumah ini bukan tempat yang cocok untuk mewujudkannya”
Perkataan ayah berhasil menyadarkan ku sepenuhnya, bahwa tempat ku bukan disini. Lantas tak ada lagi alasan untuk ku tetap berada dirumah ini. Bukankah sangat jelas bahwa ayah telah mengusirku . Oleh sebab itulah alasan Dua koper besar yang ku tenteng sedari tadi dengan susah payah kembali lagi ke kamarku, itu karena ulah Naomi yang tiba – tiba menariknya dan membawanya kembali ke dalam bilik kamarku. Anak itu sungguh menyebalkan.
”Jangan ganggu aku” Serkah ku.
Tidak, jangan tunjukan air mata itu padaku Naomi ku mohon melihatmu menangis sungguh membuat hatiku mengernyit sakit.
“Jangan pergi ku mohon, ibu lebih membutuhkan mu disini Lissa. Aku mohon”
“Jangan bercanda, kau mengatakan itu hanya untuk membuatku agar tetap tinggal dirumah ini bukan”
“Bodoh, kau bodoh Lissa. Bagaimana bisa selama 4 tahun ini kau sekolah di London tapi kau sama sekali tidak mengerti sedikitpun. Wajah kita memang sama, tapi bagaimanapun aku adalah aku, dan kau adalah kau. Apa kau tidak sakit, melihat ayah yang setiap malam menangis sendirian diruang kerjanya yang tidak pernah semenit pun padam lampunya, ayah bekerja keras menghidupi kita. Dan dia mempercayaimu untuk meneruskan usahanya” .
Aku terdiam mendengar perkataan Naomi yang menangis sesenggukkan, baru kali ini dia menangis dihadapanku sejak 10 tahun yang lalu saat kami berlibur disebuah mension dimusim panas, dia menjatuhkan ice cream vanillanya kemudian merengek menangis, dan tersenyum kembali saat membagi ice cream ku dengannya.
“Bagaimana kau dapat berfikiran seperti itu, ibu selalu menangis merindukan mu setiap malam dikasurnya dengan memeluk sebuah boneka teddy bear kesukaaan mu. Bahkan, pelukan itu terasa lebih hangat ketimbang saat ibu memeluk ku. Cukup Lissa aku tidak bisa menanggung ini sendirian. Aku tidak sekuat dirimu. Aku- aku iri kepada mu, kau pintar, kau cantik, juga selalu kuat untuk menjagaku. Aku menyayangimu.”
Sebulir air mata tanpa sadar jatuh mengalir dipipi ku. Aku mematung melihat Naomi yang kini tersungkur menangis tersedu, dadaku merasakan sakit sangat sakit. Aku bodoh, tanpa sadar keegoisan selama ini telah membutakan mataku. Apa yang ku fikirkan selama ini.
“Maafkan aku, kau benar aku bodoh”
Kini aku memeluk Naomi, tubuhnya bergetar dengan tangis nya yang semakin menjadi. Dia sangat rapuh, dan aku membiarkannya selama ini menanggung beban yang sulit untuk dapat ditanggungnya. Aku melampiaskan tekanan ku kepadanya.
1 minggu berikutnya.
Setelah kejadian yang terjadi seminggu yang lalu, sungguh menjadi sebuah pembelajaran yang berharga untuk ku. Akhirnya kini aku melupakan mimpiku menjadi seorang pianis dengan menjadi C.I.O di perusahaan ayah. Hei, setidaknya aku masih dapat memainkannya bukan, disepanjang sore ditemani senja pertama yang ku lalui bersama ayah, ibu dan tentu saja Naomi.
Sebuah kesalah fahaman dan keirian yang selama ini terdapat diantara diriku dengan Naomi sungguh mebuat kami saling menyakiti dan tersakiti satu sama lain.
Semua bahagia sekarang, ayah yang memang sudah waktunya menghabiskan masa tua nya didampingi dengan wanita cantik yang selalu setia disinya yaitu ibuku. Aku? Meski terdapat sedikit kekecewaan, namun tidak apa kan jika bahagia nya banyakan. Dan Naomi , kini aku mengantarnya dibandara. Akhirnya dia melanjutkan study S2 nya ke London. Mengejutkan bukan?.
“Hei, cepat pulang ya jika sudah pintar berbahasa Inggris” Ujar ku.
“Aku menyayangi mu Lissa”.
Naomi memelukku, memberikan sebuah salam perpisahan sama seperti yang ia lakukan kepadaku dulu.
“Ibu akan sangat merindukan mu Naomi, jaga diri baik – baik ya. Jangan lewatkan jam makan mu. Ibu akan selalu menelfon setiap kali untuk memastikan kau baik – baik saja”.
“Naomi akan selalu mengangkatnya. Ibu tidak akan merindukan ku, lagi pula kan ada Lissa. Wajah kami kan sama ibu”
“Jangan membuat ibumu khawatir, dia akan menangis setiap malam”
“Baiklah ayah, Naomi menyayangi kalian semua. Aku pergi dulu”
Menatap pesawat yang lepas landas dilangit biru meninggalkan bekas tipis jejaknya yang perlahan mulai hilang tertiup angin. Tak akan ada yang tahu apa yang didapat dari apa yang kau lakukan saat ini. Tapi, percayalah selama kau tak sendiri dan terdapat cinta dari orang disekelilingmu kebahagiaan yang sederhana adalah yang kau butuhkan. Meskipun terkadang semua itu dilakukan dengan cara menyakiti. Terimakasih Naomi, aku sangat menyayangimu.
END
Naomi & Lissa
Hai, terimaksih sudah mengunjunggi blog ku. Kalian dapat berjumpa dengan ku disini :
Facebook : Http://.m.facebook.com/Alissa.Qothrunnada.Co.Id
Twitter : @alissaqothrunn3
IG : @Alissaqm




Komentar
Posting Komentar